Sabtu, 26 April 2014

pemenuhan cairan dan elektrolit



2.1 Cairan dan Elektrolit
Cairan tubuh berkaitan erat dengan mineral yang terlarut di dalamnya. Semua proses kehidupan berlangsung di dalam cairan tubuh yang mengandung mineral. Oleh karena itu, pembahasan tentang cairan tubuh dilakukan bersamaan dengan pembicaraaan tentang mineral.
Manusia membutuhkan cairan cairan dan elektrolit dalam jumlah dan proporsi yang tepat  di berbagai jaringan tubuh. Hal ini dapat dicapai dengan serangkaian maneuver fisika-kimia  yang kompleks. Air menempati proporsi yang besar dalam tubuh. Seseorang dengan  berat badan 70 kg bisa memiliki sekitar 50 liter ir dalam tubuhnya.  Air menyusun 75% berat badan bayi, 70 % berat  bdan pria dewasa, dan 55% tubuh pria lanjut usia.. Karena wanita memiliki simpanan  lemak yang rlafit lebih banyak ,kandunganair dalam tubuh wanita 10% lebih  sediit dibandingkan pria. Air tersimpan dalam dua kompartemen utama dalam tubuh yaitu:
1.      Cairan Intraselular ( CIS ) CIS adalah cairan yang terdapat dalam sel tubuh dan menyusun sekitar 70% dari total  cairan tubuh (total body water {TWB}). CIS merupakan media tempat terjadinya  aktifitas  kimia sel(Taylor,1989).Pada individu dewasa CIS menyusun sekitar 40% berat tubuh atau dua pertiga  dari TWB.Sisanya  satu pertiga TWB atau 20% berat tubuh, berada diluar sel yang disebut  sebagai cairan ekstraselular (CES) (Price & Wilson,1986)
2.      Cairan Ekstraselular
Merupakan cairan yang terdapat diluar sel  dan menyusun sekitr 30% dari total cairan tubuh





Elektolit yang brperan dalam mekanisme pertukaran CIS
ANION

KATION
Klorida

Cl-

Natrium

Na+
           Sulfat

SO42-

Kalium

K+
           Fosfat

PO4 3-

Kalsium

Ca2+
Bikarbonat

HCO-3

Magnesium

Mg2+

2.2 Pergerakan Cairan dan Elektrolit Tubuh
Pergerakan cauran dalam tubuh meliuti hubungan timbal balik antara sejumlah komponen termasuk air dalam  tubuh dan cairannya, bagian-bagian airan , ruang cairan, membrane , system transport, enzim dan tonisitas. Sirkulasi cairan  dan elektrolit terjadi dalm tiga tahap. Pertama plasma darah bergerak  diseluruh tubuh melalui  system sirkulasi. Kedua, cairan interstial dan komponennya bergerak diantara kapiler darah dan sel. Teakhir cairan  dan substansi  bergerak dari cairan interstial kedalam sel. Sedangkan mekanisme pergerakan cairan tubu berlangsung dalam tiga proses yaitu :
1.      Difusi
Difusi adalah  perpindahan larutan dari area berkonstrasi  tinggi menuju konsentrasi rendah dengan melintasi membrane semipermiabel. Kecepatan difusi dipengaruhi oleh tiga halyakni ukuran molekul, konsentrasi larutan, dan temperature larutan.
ü  Ukuran molekul. Molekul yang lebih besar  cenderung bergerak lebi lambat dibandingkan molekul yang  ukurannya kecil.
ü  Konsentrasi lrutan. Larutan berkonsentrasi tinggi  bergerak lebih  cepat dibandingkan larutan berkonsentrasi rendah.
ü  Temperatur larutan . Semakin tinggi  temperature larutan maka semakin cepat difusinya.
2.      Osmosis
Osmosis adalah perpindahan  cairan melintasi  membrane semipermiabel dari konsentrasi  rendah menuju konsentrasi tinngi.
3.      Transpor Aktif
Transpor aktif adalah proses pengangkutan yang digunakan  oleh molekul untuk berpindah  melintasi membrane sel melawan gradient  konsentrasinya. Dengan kata lain transport aktif adalah  gerakan  partikel  dari konsentrasi satu ke konsentrasi lain tanpa memandan  tingkatannya.
2.3  Pengaturan Keseimbangan Cairan
1.      Rasa Haus
Rasa haus adalah keinginan yang disadari  terhadap kebutuhan  akan cairan. Rasa haus muncul  apabila osmolalitas plasma mencapai 295 mOsm/kg. Bila Osmolalitas meningkat sel akan mengkerut dn sensasi rasa haus akan muncul  akibat kondisi dehidrasi. Mekanismenya adalah sebagai berikut:
a.       Penurunan perfusi ginjal  merangsng pelepasan rennin yang akhirnya menghasilkan angiotensin II. Angiotensin II merangsang hipotalamus untuk melepaskan substat neuron yang bertanggung jawab meneruskan sensasi haus.
b.      Osmoreseptor di hipotalamus mendeteksi peningkatan tekanan osmotic
dan mengaktivasi  jaringan saraf sehingga menghasilkan sensasi haus.
c.. Rasa haus dapat diinduksi oleh kekeringan local pada mulut akibat status hiperosmolar.
      2. Hormon ADH.
            Hormon ini dibentuk di hipotalamus dan disimpan dalam  neurophiofisis posterior. Stimulasi utama untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolalitas dan  penurunan cairan ekstrasel. Hormon ini meningkatkan reapsorpsi air pada duktus pengumpul sehingga dapat menahan air dan mempertahankan volume cairan ekstrasel. ADH juga disebut sebagai tvasopressin karena mempunyai efek vasokonstriksi minor pada arteriol yang dapat meningkatkan tekanan darah .
3.  Hormon  Aldosteron
            Hormone ini disekresikan oleh kelenjar adrenal dan bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absorpsi natrium. Retensi natrium mengakibatkan  retensi air. Pelepasan aldosteron dirangsang oleh perubahan konsentrasi kalsium,kadar natrium serum, dan sistem rennin-angiotensin.
4.  Prostaglandin
            Prostaglandin merupakan asam lemak alami yang terdapat di banyak jaringan dan berperan dalam respon radang, pengontrolan tekanan darah, kontaksi uterus, dan motilitas gastrointestinal. Diginjal, prostaglandin berperan mengatur situasi ginjal, resorpsi natrium.
5.  Glukokortikoid      
            Glukokortikoid meningkatkan reabsorpsi natrium dan air sehingga memperbesar volume darah dan mengakibatkan retensi natrium. Oleh karena  itu, perubahan kadar glukokortikoid mengakibatkan perubahan pada keseimbangan volume darah.
Pengeluaran cairan dapat terjadi melalui beberapa organ :
·         Kulit  pengeluaran cairan melali kulit diatur oleh kerja saraf simpatis yang merangsang aktifitas kelenjar keringat. Rangsangan pada kelenjar keringat ini disebabkan oleh aktifitas otot, temperature lingkungan yang tinggi dan kondisi demam. Pengeluaran cairan melalui kulit dikenal dengan istilah insensible water  loss (IWL).
·         Paru-paru meningkatnya jumlah cairan yang keluar melalui paru merupakan suatubentuk respon terhadap perubahan kecepatan dan kedalam  napas karena pergerakan atau kondisi demam.
·         Pencernaan. Dalam kondisi normal, jumlah cairan yang hilang melalui sistem pencernaan setiap harinya berkisar 100-200ml. Perhitungan IWL secara keseluruhan adalah 10-15 ml / kg BB / 24 jam, dengan penambahan 10% dari IWL normal setiap kenaikan suhu 1  C.
·         Ginjal . Ginjal merupakan organ pengekskresi cairan yang utama pada tubuh. Pada individu dewasa, ginjal mengekskresi sekitar 1500 ml per hari.

Pengeluaran cairan dalam tubuh manusia berlangsung dalam tiga hal.
·         Cara pertama melalui insensible water loss (IWL). Pada proses ini cairan keluar melalui penguapan di paru-paru.
·         Cara kedua melalui noticeable water loss (NWL), cairan diekskresikan melalui keringat
·         Cara ketiga melalui feses tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit.
Ginjal merupakan organ pengatur keseimbangan cairan yang utama, setiap harinya ginjal menerima hamper 170 liter darah untuk disaring menjadi urine. Pada individu dewasa, produksi urine sekitar 1,5 liter/ hari. Jumlah urine yang diproduksi oleh ginjal dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron.
Dalam pengaturan keseimbangan cairan, dikenal istilah obligatory loss. Obligatory loss adalah mekanisme pengeluaran cairan yang mutlak terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tubuh (misal pengeluaran keringat)

2.4 Faktor – Faktor yang  mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
·         Usia : Pada bayi atau anak – anak, keseimbangan cairan dan elektrolit di pengaruhi oleh asupan cairan yang besar di imbangi dengan pengeluaran yang besar pula, metabolisme tubuh yang tinggi, masalah yang muncul akibat imaturitas fungsi ginjal serta banyaknya cairan keluar melalui ginjal, paru – paru, dan proses penguapan. Pada orang tua atau lansia, gangguan  yang muncul berkaitan dengan masalah ginjal dan jantung karena ginjal tidak mampu mengontrol konsentrasi urine.
·         Temperature lingkungan : Lingkungan yang panas menstimulasi system saraf simpatis dan menyebabkan seseorang berkeringat.
·         Kondisi stress : Mempengaruhi metabolism sel, konsentrasi glukosa darah dan glikolisis otot. Kondisi ini menyebabkan pelepasan  hormon ADH sehingga produksi urine menurun.
·         Keadaan sakit : mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit antara lain luka bakar, payah jantung, dan gagal ginjal.
·         Diet : Asupan nutrisi tidak adekuat dapat berpengaruh terhadap albumin serum. Jika albumin serum menurun, cairan interstisial tidak dapat masuk ke pembuluh darah sehingga terjadi edema.
2.5 Gangguan Keseimbangan Cairan dan Eelektrolit
Ketidakseimbangan cairan :
1.      Defisit volume cairan (fluid volume deficit [FVD])
Suatu kondisi ketidakseimbangan yang di tandai dengan devisiensi cairan dan elektrolit di ruang ekstrasel, namun proposi antar keduanya mendekati normal. Secara umum kondisi secara umum, kondisi volume cairan atau dehidrasi terbagi menjadi tiga yaitu :
a)      Dehidrasi isotonic terjadi apabila jumlah cairan yang hilang sebanding dengan jumlah eletrolit yang hilang. Kadar Na+ dalam plasma 130 – 145 mEq/ l
b)      Dehidrasi hipertonik  terjadi jika jumlah cairan yang hilang lebih besar dari pada jumlah elektrolit yang hilang. Kadar Na+ dalam plasma 130 – 150 mEq/ l
c)      Dehidrasi hipotonik terjadi jika jumlah cairan yang hilang lebih sedikit dari pada jumlah elektrolit yang hilang. Kadar Na+ dalam plasma 130 mEq/ l
2.      Volume cairan berlebih (fluit volume eccess [FVE] )
Kondisi ketidakseimbangan yang di tandai dengan kelebihan (retensi) cairan natrium di ruang ekstrasel. Kondisi ini di sebut hipervolemia. Overhidrasi umumnya di sebabkan oleh gangguan fungsi ginjal. Manifestasi yang kerap muncul terkait kondisi ini adalah peningkatan volume darah dan edema. Edema terjadi akibat peningkatan tekanan hidrotatik dan penurunan tekanan osmotic. Edema sering muncul didaerah mata, jari dan pergelangan kaki. Edema pitting adalah edema yang muncul didaerah perifer, karena perpindahan cairan ke jaringan  melalui titik tekan edema pitting tidak menunjukan kelebihan cairan yang menyeluruh. Sebaliknya, pada edema non pitting, cairan di dalam jaringan tidak dapat dialihkan ke area penekanan jari. Edema non pitting tidak menunjukan kelebihan cairan ekstra sel melainkan kondisi infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan dan pemebkuan cairan di permukaan jaringan. Kelebihan cairan vascular meningkatkan tekanan hidrostatik dan tekanan ciran dalm permukaan interstisial. Edema anasarka adalah edema yang terdapat diseluruh tubuh. Manifestasi edema paru antara lain penumpukan sputum, dispnea, batuk, dan bunyi nafas ronkhi basa.
Ketidakseimbangan elektolit
Gangguan ketidakseimbangan elektolit meliputi :
·         Hiponatremia dan hipernatremia
Hipernatremia adalah kekurangan pada natrium dicairan ekstrasel yang menyebabkan perubahan tekanan osmotic. Perubahan ini mengakibatkan pindahnya cairan dari ruang ekstrasel ke intrasel sehingga sel menjadi bengkak. Hiponatremia umumnya disebabkan oelh penyakit ginjal, penyakit Addison, kehilangan natrium melalui pencernaan, pengeluaran keringat berlebih, dieresis, serta asidosis metabolic.tanda dan gejela hipernatremia meliputi cemas, hipotensi postural, posturan dizzeness, mual, muntah, diare, takikardia, kejang, dan koma.
Hipernatremia adalah kelebihan  kadar natrium di cairan ekstrasel yang menyebabakan peningkatan tekanan darah osmotic ekstrasel kondisi ini mengakibatkan perpindahnya cairan intrsel keluar sel. Penyebab hipernatremia meliputi asupan natrium yang berlebihan, kerusakan sensasi haus, disfagia, diare, kehilangan cairan berlebih dari paru-paru, poliuria karena diabetes insipidus. Tanda dan gejalanya meliputi kulit kering, mukosa bibir kering, pireksia, agitasi, kejang, oliguria, atau anuria.
·         Hipokalenia dan hiperkalamia
Hipolkaremina adalah kekurangan kadar kalium di cairan ekstrasel yang menyebabkan pindahnya kalium keluar sel. Akibatnya, ion hydrogen dan kalium tertahan di dalam sel dan menyebabkan gangguan atau perubahan pH plasma. Gejala definisi kalium pertama kali terlihat pada otot, distensi usus, penurunan bising usus, serta denyut nadi yang tidak teratur.
Hiperkalemia adalah kelebihan kadar kalium di cairan ekstrasel. Kusu ini jarang sekali terjadi, kalaupun ada, tentu akan sangat membahayakan kehidupan sebab akan menghambat transmisi impuls jantung dan menyebabkan serangan jantung. Saat terjadi hiperkalemia, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan insulin sebab insulin dapat membantu mendorong kalium masuk kedalam sel. Tanda dan gejela hiperkalemia sendiri meliputi cemas, iritabilitas, irama jantung irregular, hipotensi, parastesia, dan kelemahan.
·         Hipokalsemia dan hiperkalsemia
Hipokalsemia adalah kekurangan kadar kalsium di cairan eksternal. Bila berlangsung lama, kondisi ini dapat menyebabkan osteomalasia sebab tubuh akan berusaha memenuhi kebutuhan kalsium dengan mengambilnya dari tulang. Tanda dan gejela hipokalsemia meliputi spasme dan tetani, peningkatkan motilis gastrointestinal, gangguan kardiovaskuler, dan osteoporosis.
Hiperkalsemia adalah kelebihan kadar kalsium pada cairan ekstrasel. Kondisi ini menyebabkan penurunan ekstibilitas otot dan saraf yang pada akhirnya menimbulkan flaksiditas. Tanda dan gejala hiperkalsemia meliputi penurunan kemampuan otot, anoreksia, mual, muntah, kelemahan dan letargi, nyeri punggung, dan serangn jantung.
·         Hipomagnesemia dan hipermagnesemia
Hipomagnesemia terjadi apabila kadar magnesium serum kurang dari 1,5 mEq/I. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh konsumsi alcohol yang berlebih, malnutrisi, diabetes militus, gagal hati, absorbs usus yang buruk. Tanda dan gejalanya meliputi tremor, reflex tendon profunda yang hiperaktif, konfusi, disorientasi, halusinasi, kejang, takikardia, dan hipertensi.
Hipermagnesemia dalah kondisi meningkatnya kadar magnesium di dalam serum. Meski jarang ditemui, namun kondisi ini dapat menimpa penderita gagal ginjal, terutama yang mengonsumsi antasida yang mengandung magnesium. Tanda dan gejala hipermagnesemia meliputi aritmia jantung, depresi reflex tendon profunda, depresi pernafasan.
·         Hipokloremia dan hiperkloremia
Hipokloremia adalah penurunan kadar ion klodira dalam serum. Secara khusus, kondisi ini disebabkan oleh kehilangan sekresi gastrointestinal yang berlebihan, seperti muntah, diare, dieresis, serta pengisapan nasogastrik. Tanda dan gejala yang muncul menyerupai alkalosis metabolic, yaitu apatis, kelemahan, kekacauan mental, kram, dan pusing.
Hiperkloremia adalah peningkatan kadar ion klorida dalam serum. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan hipernatremia, khusunya saat terjadi dehidrasi dan majalah ginjal. Kondisi hiperkloremia menyebabkan penurunan bikerbonat sehingga menimbulkan ketidakseimbangan asam basa. Lebih lanjut, kondisi ini bisa menyebabkan kelemahan, latergi, dan pernapasan Kussmaul.
·         Hipofosfatemia dan hiperfosfatemia
Hipofosfatemia adalah penurunan kadar fosfat didalam serum. Kondisi ini dapat muncul akibat penurunan absorbs fosfat di usus, peningkatkan ekskresi fosfat, dan peningkatan ambilan fosfat untuk tulang. Hipofasfatemia dapat terjadi akibat alkoholisme, malnutrisi, katoasidosis diabetes, dan hipertiroidisme. Tanda dan gejalanya meliputi anoreksia, pusing, parestesia, kelemahan otot, serta gejala neurologis yang tersamar.
Hiperfosfatemia adalah peningaktakan kadar ion fosfat dalam serum. Kondisi ini dapat muncul pada kasus gagal ginjal atau saat kadar hormon paratiroid menurun. Selain itu, hiperfosfatemia juga bisa terjadi akibat asupan fosfat berlebih atau penyalahgunaan laksatif yang mengandung fosfat., maka tanda dan gejala hiperfosfatemia hamper sama dengan hipokalsemia yaitu peningkatan eksibilitas system saraf pusat, spesma otot, konvulsi dan tetani, peningkatkan motolotas usus, masalah kardiovaskuler seperti penurunan kontraktikitas jantung/gejala gagal jantung, dan osteoporosis.
2.6 Distrubusi Cairan Tubuh
Cairan tubuh merupakan media semua reaksi kimia di dalam sel. Tiap sel mengandung cairan intraseluler ( cairan di dalam sel ) yang komposisinya paling cocok untuk sel tersebut dan berada di dalam cairan ekstraseluler ( cairan di luar sel ) yang cocok pula. Cairan ekstraseluler terdiri atas cairan interstisial atau intreseluler ( sebagian besar ) yang terdapat sela-sela sel dan cairan intraveskuler berupa plasma darah. Semua cairan tubuh setiap waktu kehilangan dan mengalami penggantian bagian-bagiannya, namun komposisi  cairan dalam tiap kompartemen dipertahankan agar selalu berada dalam keadaan homeostasis/ tetap. Keseimbangan cairan di tiap kompartemen menentukan volume dan tekanan darah.
2.7 Daya Tarik Eloktrolit terhadap Air
Tubuh menggunakan elektrolit untuk mengatur keseimbngan cairan tubuh. Sel-sel tubuh memilih elektrolit untuk ditempatkan di luar ( trutama natrium dan klorida ) dan di dalam sel (terutama kalium, magnesium, fosfat, dan sukfat ).
Molekul air, karena bersifat polar, menarik elektrolit. Walaupun molekul air bermuatan nol, sisi oksigenya sedikit bermuatan negatif, sedangkan hidrogennya sedikit bermuatan positif. Oleh sebab itu, dalam suatu larutan elektrolit, baik ion positif maupun ion negatif menarik molekul air di sekitarnya.
2.8 Pengaturan Keseimbngan Cairan dan Elektrolit oleh Protein
Membran sel mengandung alat trasnspor berupa protein yang mengatur penyeberangan ion positif dan bahan lain melalui membran sel tersebut. Ion negatif akan mengikuti ion positif dan air akan mengalir ke arah cairan yang lebih tinggi konsentrasinya. Salah satu contoh alat transpor ini adalah pompa natrium-kalium, suatu enzim yang memompa natrium ke luar lebih cepat daripada proses difusi biasa. Pada waktu yang sama, kalium akan di pompa ke dalam sel. Pompa ini secara aktif mempertarukan natrium dengan kalium melalui membran sel, dengan demikian mepertahankan tingkat konsentrasi masing-masing elektrolit. Pompa ini menggunakan ATP sebagai sumber energi dan enzim natrium-kalium ATP-ase guna melepas energi dari ATP.

2.9  Pemeliharaan Keseimbangan Cairan tubuh dan Elektrolit
Jumlah berbagai jenis garam di dalam   tubuh hendaknya dijaga dalam keadaan konstant. Tubuh mempunyai suatu mekanisme yang mengatur agar konsentrasi semua mineral berada dalam batas batas normal. Pengaturan ini terutama dilakukan oleh saluran cerna dan ginjal. Bagian saluran cerna yaitu lambung dan usus halus secara terus menerus memperoleh mineral melalui getah pencernaan dan cairan empedu. Mineral ini kemudian diserap kembali dibagian bawah bagian kolon/usus besar.
Hormon ADH menentukan jumlah air yang dikeluarkan ginjal dan jumlah yang diserap kembali untuk mengatur kembali keseimbangan elektrolit, ginjal memanfaatkan kelenjar adrenal melalui homon aldosteron. Bila kadar natrium tubuh menjadi rendah aldosteron meningkatkan reabsorpsi natrium dari tubula ginjal bila terjadi reabsorpsi natrium, kalium akan dikeluarkan dari tubuh sesuai dengan aturan bahwa jumlah ion positif didalam tubuh harus tetap sama. Makanan yang biasanya mengandung banyak natrium daripada yang dibutuhkan tubuh. Natrium mudah diabsorpsi oleh saluran cerna kedalam darah. Ginjal akan mengeluarkan kelebihan natrium ini dan menjaga konsentrasi dalam darah normal.
Rasa haus membantu kadar natrium didalam darah. Bila kadar natrium tinggi, reseptor didalam otak merangsang untuk minum. Kemudian ginjal akan mengeluarkan kelebihan air dan kelebihan natrium secara bersamaan.