2.1
Pengertian Mekanik Tubuh
Mekanika Tubuh adalah
suatu usaha mengkoordinasikan sistem muskuloskeletal dan sistem syaraf
dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama
mengangkat, membungkuk, bergerak, dan melakukan aktivitas sehari-hari ( Potter
& Perry, 2005).
2.2 Elemen Body
Mekanik
Body
Mekanik meliputi 3 elemen dasar yaitu :
a. Body Alignment (Postur Tubuh)
Susunan
geometrik bagian-bagian tubuh dalam hubungannya dengan bagian tubuh yang lain.
b. Balance / Keseimbangan
Keseimbangan
tergantung pada interaksi antara pusat gravity, line gravity dan base of
support.
c. Koordinated body movement (Gerakan tubuh yang terkoordinir)
Dimana body mekanik berinteraksi dalam fungsi muskuloskeletal
dan sistem syaraf.
2.3 Prinsip body mekanik
1. Gravity : Merupakan prinsip
pertama yang harus diperhatikan dalam melakukann mekanika tubuh dengan benar,
yaitu memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh. Terdapat tiga
faktor yang perlu diperhatikan dalam gravitasi:
a.Pusat gravitasi ( center of
gravitasi ), titik yang berada dipertengahan tubuh
b.Garis
gravitasi ( Line Of gravitasi ), merupakan garis imaginer vertikal
melalui pusat gravitasi.
c.Dasar
tumpuan ( base of suport ), merupakan dasar tempat seseorang dalam
keadaan istirahat untuk menopang atau menahan tubuh
2. Balance (Keseimbangan)
: Keseimbangan dalam penggunaan mekanika tubuh dicapai
dengan cara mempertahankan posisi garis gravitasi diantara pusat gravitasi dan
dasar tumpuan.
3. Weight (berat) : Dalam
menggunakan mekanika tubuh sangat dipehatikan adalah berat atau bobot benda
yang akan diangkat karena berat benda akan mempengaruhi mekanika tubuh.
2.4 Pergerakan dasar yang digunakan dalam Body
Mekanik
a.
Gerakan ( ambulating ).Gerakan yang benar dapat membantu keseimbangan tubuh.
Sebagai contoh, keseimbangan pada saat orang berdiri dan saat orang berjalan
kaki berbeda. Orang berdiri akan lebih mudah stabil dibanding dengan
orang yang berjalan, karena pada posisi berjalan terjadi perpindahan dasar
tumpuan dari sisi satu ke sisi yang lain dan pusat gravitasi selalu berubah pada
posisi kaki. Pada saat berjalan terdapat dua fase yaitu fase menahan berat dan
fase mengayun, yang akan menghasilkan gerakan halus dan berirama.
b.Menahan ( squating ).Dalam melakukan
pergantian, posisi menahan selalu berubah. Sebagai contoh, posisi orang yang duduk
akan berbeda dengan orang yang jongkok dan tentunya juga berbeda dengan posisi
membungkuk. Gravitasi adalah hal yang perlu diperhatikan untuk memberikan
posisi yang tepat dalam menahan. Dalam menahan sangat diperlukan dasar tumpuan
yang tepat untuk mencegah kelainan tubuh dan memudahkan gerakan yang akan
dilakukan.
c. Menarik
( pulling ).Menarik dengan benar akan memudahkan untuk memindahkan benda.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menarik benda, di antaranya
ketinggian, letak benda ( sebaiknya berada di depan orang yang akan menarik ),
posisi kaki dan tubuh dalam menarik ( seperti condong kedepan dari panggul ),
sodorkan telapak tangan dan lengan atas di bawah pusat gravitasi pasien, lengan
atas dan siku diletakkan pada permukaan tempat tidur, pinggul, lutut dan
pergelangan kaki ditekuk lalu lakukan penarikan.
d. Mengangkat (
lifting ).Mengangkat merupakan cara pergerakan daya tarik. Gunakan otot – otot
besar dari tumit, paha bagian atas, kaki bagian bawah, perut dan pinggul untuk
mengurangi rasa sakit pada daerah tubuh bagian belakang.
e. Memutar (
pivoting ).Memutar merupakan gerakan untuk memutar anggota tubuh dan bertumpu
pada tulang belakang. Gerakan memutar yang baik memperhatikan ketiga unsur
gravitasi dalam pergerakan agar tidak memberi pengaruh buruk pada postur tubuh
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi body mekanik :
a.
Status kesehatan : Perubahan status kesehatan dapat mempengaruhi sistem
muskuloskeletal dan sistem saraf berupa penurunan koordinasi. Perubahan
tersebut dapat disebabkan oleh penyakit, berkurangnya kemampuan untuk melakukan
aktivitas sehari – hari dan lain – lainnya.
b.
Nutrisi : Salah satu fungsi nutrisi bagi tubuh adalah membantu proses
pertumbuhan tulang dan perbaikan sel. Kekurangan nutrisi bagi tubuh dapat
menyebabkan kelemahan otot dan memudahkan terjadinya penyakit. sebagai contoh
tubuh yang kekurangan kalsium akan lebih mudah mengalami fraktur.
c.
Emosi : Kondisi psikologis seseorang dapat menurunkan kemampuan mekanika tubuh
dan ambulansi yang baik, seseorang yang mengalami perasaan tidak aman, tidak
bersemangat, dan harga diri rendah. Akan mudah mengalami perubahan dalam
mekanika tubuh dan ambulasi.
d. Situasi
dan Kebiasaan : Situasi dan kebiasaan yang dilakukan seseoarang misalnya,
sering mengankat benda-benda berat, akan menyebabkan perubahan mekanika tubuh
dan ambulasi.
e. Gaya
Hidup : Gaya hidup, perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stress dan
kemungkinan besar akan menimbulkan kecerobohan dalam beraktivitas, sehingga
dapat menganggu koordinasi antara sistem muskulusletal dan neurologi, yang
akhirnya akan mengakibatkan perubahan mekanika tubuh.
f.
Pengetahuan : Pengetahuan yang baik terhadap penggunaan mekanika tubuh akan
mendorong seseorang untuk mempergunakannya dengan benar, sehingga mengurangi
tenaga yang dikeluarkan. Sebaliknya, pengetahuan yang kurang memadai dalam
penggunaan mekanika tubuh akan menjadikan seseorang beresiko mengalami gangguan
koordinasi sistem neurologi dan muskulusletal.
2.5 Sistem tubuh yang
berperan dalam kebutuhan aktivitas:
1. Tulang
Tulang
merupakan organ yang mempunyai berbagai fungsi, fungsi mekanis untuk membentuk
rangka dan tempat melekatnya berbagai otot, fungsi sebagai tempat menyimpan
mineral kususnya kalsium dan fosfor yang bisa dilepaskan setiap saat sesuai
kebutuhan, fungsi tempat sumsum tulang dalam membentuk sel darah, dan fungsi
pelindung organ-organ dalam.
2. Otot dan tendo
Tubuh memiliki mempunyai kemampuan berkontraksi yang
memungkinkan tubuh bergerak sesuai keinginan. Otot memiliki origo dan
insersinya tulang, serta dihubungkan dengan tulang melalui tendon, yaitu suatu
jaringan ikat yang melekat sangat kuat pada tempat insersinya tulang
.3.
Ligamen
Ligamen merupakan bagian
yang menghubungkan tulang dengan tulang. Ligamen pada lutut merupakan penjaga
stabilitas.
4.
Sistem syaraf
Syaraf terdiri dari syaraf
pusat (otak dan medula spinalis) dan syaraf tepi (percabangan dari syaraf
pusat). Bagian somatis memiliki fungsi sensorik dan motorik. Kerusakan pada
syaraf pusat seperti kerusakan tulang belakang akan menyebabkan kelemahan umum,
sedangkan kerusakan saraf tepi menyebabkan terganggunya daerah yang diinervasi
dan kerusakan pada saraf radial akan menyebabkan drop hand atau gangguan
sensorik di daerah radial tangan.
5.
Sendi
Sendi merupakan tempat dua
atau lebih tulang bertemu.
2.6 Konsekuensi body mekanik
yang buruk
1. Jatuh
2. Cidera belakang (Harber
(1985), memberikan daftar penyebab cidera belakang yang paling sering terjadi
pada perawat yang bekerja di rumah sakit yaitu :
.
Mengangkat
pasien ke atas tempat tidur (48%)
.
Membantu
pasien turun dari tempat tidur (30%)
.
Memindahkan
bed (27%)
.
Mengangkat
pasien keatas brankat(22%)
2.7 Dampak
dari penggunaan mekanika tubuh yang salah
1.
Terjadi ketegangan sehingga memudahkan timbulnya kelelahan dan gangguan dalam
sistem muskulusletal.
2. Resiko
terjadinya kecelakaan pada sistem muskulusletal. Seseorang salah dalam
berjongkok atau berdiri, maka akan memudahkan terjadinya gangguan dalam
struktur muskulusletal, misalnya kelainan pada tulang vertebrata
2.8 Bodi mekanik
1. Body alignment
a.
Membantu pasien berdiri
Pengertian:Suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang
imobilisasi atau klien lemah untuk memberikan bantuan berdiri.
b.
Membantu pasien duduk
Pengertian:Suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang
imobilisasi atau klien lemah untuk memberikan bantuan duduk ditempat tidur.Tujuan:Mengurangi
risiko cedera muskuloskeletal pada semua orang yang terlibat.
c.
Mengatur berbagai posisi klien
1)
Posisi fowler
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana
bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan setinggi 15°- 90°.
Tujuannya untuk mempertahankan kenyamanan dan
memfasilitasi fungsi kenyamanan pasien, Melakukan aktivitas ttu, Mengatasi
kesulitan pernafasan & KV pernafasan pasien.
Fowler
: 45 – 90o dan Semi fowler : 15 – 45o
Adalah dimana posisi kepala dan bahu pasien sedikit mengalami
elevasi diatas bantal, kedua lengan berada di samping sisi tubuh, posisi kaki
fleksi dengan telapak kaki datar diatas tempat tidur. Tujuannya untuk memeriksa
daerah genetalia, pasang cateter, serta pada proses persalinan
3) Posisi Trendelenburg
Adalah posisi pasien berbaring di TT dg bagian kepala lebih
rendah daripada bagian kaki
Tujuan : Melancarkan
peredaran darah ke otak
4) Posisi antitrendelenberg
Adalah posisi pasien berbaring di TT dengan kaki lebih tinggi
dari kepala.
Tujuan : tindakan
menurunkan tekanan intrakranial pada pasien trauma kapitis.
5) Posisi pronasi/ tengkurap
Adalah dimana posisi pasien berbaring diatas abdomen dengan
kepala menoleh kesalah satu sisi. Kedua lengan fleksi disamping kepala. Posisi
ini memiliki beberapa tujuan diantaranya :
a.Memberikan ekstensi penuh pada persendian pinggul dan lutut.
b.Mencegah terjadinya fleksi kontraktur dari pinggul dan sendi.
c.Membantu drainase dari mulut.
Yaitu seorang tidur diatas salah satu sisi tubuh, dengan
membentuk fleksi pada pinggul dan lutut bagian atas dan meletakkannya lebih
depan dari bagian tubuh yang lain dengan kepala menoleh kesamping.
Tujuan posisi ini : Mengurangi lordosis & meningkatkan
kelurusan punggung , Baik untuk posisi tidur & istirahat, Membantu
menghilangkan tekanan pada sakrum
Ini biasanya disebut berbaring telentang, datar dengan kepala
dan bahu sedikit elevasi dengan menggunakan bantal. Posisi pasien harus di
tengah-tengah tempat tidur, sekitar tiga inci di bawah kepala tempat tidur.
Tujuan : Klien pasca operasi dengan anestesi spinal, Mengatasi
masalah yg timbul akibat pemberian posisi pronasi yg tidak tepat.
8) Posisi Sim’s
Adalah posisi dimana tubuh miring kekiri atau kekanan.
Tujuan posisi ini :untuk memberikan kenyamanan dan memberikan
obat per anus (supositoria).Memfasilitasi drainase dari mulut pada klien tidak
sadarMengurangi penekanan pada sakrum & trokanter mayor pada klien
paralisis.Memudahkan pemeriksaan perineal.Untuk tindakan pemberian enema.
9) Posisi Genu pectoral/knee chest
position
posisi pasien berbaring dengan kedua kaki ditekuk dan dada
menempel pada bagian alas TT
Tujuan : memeriksa
daerah rectum & sigmoid
10)
Posisi Litotomi
posisi pasien berbaring terlentang dengan mengangkat kedua kaki
dan menariknya keatas bagian perut
Tujuan : Merawat atau
memeriksa genetalia pada proses persalinan, memasang alat kontrasepsi
11) Posisi Orthopneik
posisi adaptasi dari fowler tinggi. Klien duduk di TT atau tepi
TT dg meja yang menyilang diatas TT (90o).Tujuan : membantu
mengatasi masalah kesulitan bernafas dg ekspansi dada maksimum, membantu klien
yg mengalami inhalasi
2. Ambulasi
1. Memindahkan klien dari tempat tidur (TT)
ke kursi/ kursi roda
a. Memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi
Pengertian : Memindahkan klien yang tirah baring ke kursi
b. Memindahkan klien dari tempat tidur (TT) ke kursi roda
Pengertian : Memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi roda
2. Memindahkan klien dari tempat tidur (TT) ke
brankard (TT) dan sebaliknya
A. Memindahkan klien dari TT ke brankard/ TT dan sebaliknya dengan
cara diangkat.
B. Memindahkan klien dari TT ke brankar/ TT dan sebaliknya dengan easy
move.
C. Memindahkan klien dari TT ke brankard dan sebaliknya dengan
Scoop Stretcher
3. Membantu klien berjalan
Tujuan: Memulihkan kembali toleransi aktivitas, Mencegah
terjadinya kontraktur sendi dan flaksid otot
4. Membantu klien
dengan alat bantu jalan (Kruk)
Tujuan : Membantu melatih kemampuan gerak klien, melatih dan
meningkatkan mobilisasi.
Mencapai kestabilan
klien dalam berjalan.
Manfaat : Klien mampu berjalan dengan menggunakan alat bantu dan
meningkatnya kemampuan mobilisasi klien.
2.9 Asuhan Keperawatan pada klien
dengan gangguan bodi mekanik
Pengkajian
Untuk melakukan
pengkajian body mekanik dan alignment lakukan inspeksi terhadap pada pasien
pada saat berdiri,duduk maupun berbaring. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam mengkaji antara lain :
1. Posisi berdiri
Lakukan inspeksi
melalui sudut pandang secara : Anterior,Lateral dan posterior. Pasien dalam
posisi berdiri dengan kepala tegak dan mata lurus kedepan serta bahu dan
pinggul harus lurus dan sejajar, apabila posisi tidak sesuai dengan posisi
berdiri yang benar maka dapat diidentifikasikan bahwa ada gangguan pada otot
dan tulang pasien.
2. Posisi duduk
Pada saat keadaan ini
normalnya kepala dan dada akan akan memiliki keadaan yang sama pada saat posisi
berdiri yaitu kepala pasien harus tegak lurus dengan leher dan verterba kolumna
telapak kaki lurus berpijak pada lantai. Pasien yang dalam keadaan abnormal
akan mengalami kelemahan otot atau pralis otot serta adanya sensasi (kerusakan
saraf)
3. Posisi berbaring
Letakan pasien pada
posisi lateral semua bantal dan penyokong posisi dipindahkan dari tempat tidur,
kemudian tubuh ditopang dengan kasur yang cukup dan vertebra harus lurus dengan
alas yang ada . apabila dijumpai kelainan pada pasien, maka terdapat penurunan
sensasi atau gangguan sirkulasi serta adanya kelemahan.
Cara berjalan
Dikaji untuk mengetahui
mobilitas dan kemungkinan resiko cedera akibat dari terjatuh, pasien diminta
berjalan sepanjang 10 langkah kemudian perawat memperhatikan hal-hal berikut
ini :
1.
Kepala tegak, pandangan
lurus kedepan, punggung tegak.
2.
Tumit menyentuh tanah
terlebih dahulu sebelum jari-jari kaki.
3.
Langkah lembut,
terkoordinasi dan ritmik
4.
Mudah untuk memulai dan
mengakhiri berjalan
5.
Jumlah langkah per menit
(pace) 70-100 X per menit, kecuali pada orang tua mungkin 40 X per menit.
2.10 Diagnosa Keperawatan
.
Nyeri
akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang
.
Gangguan
mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neurovasculer
.
Resiko
cedera berhubungan dengan gangguan keseimbangan yang disertai kelemahan otot
.
Perencanaan
Keperawatan
2.11 Nyeri akut behubungan dengan terputusnya
kontinuitas jaringan tulang
Definisi:
perasaan sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam
hal kerusakan sedemikian rupa; awitan yang tiba-tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi berlangsung < 6 bulan.Tujuan:
1)
Klien
mengatakan nyeri yang dirasakan berkurang.
2)
Klien
dapat mendeskripsikan bagaimana mengontrol nyeri
3)
Klien
mengatakan kebutuhan istirahat dapat terpenuhi
4)
Klien
dapat menerapkan metode non farmakologik untuk mengontrol nyeri
Intervensi:
1.
Identifikasi nyeri yang
dirasakan klien (P, Q, R, S, T).
2.
Eksplor faktor-faktor
penyebab nyeri.
3.
Kaji pengalaman klien masa
lalu dalam mengatasi nyeri.
4.
Pantau tanda-tanda vital.
5.
Berikan tindakan kenyamanan.
6.
Ajarkan teknik non farmakologik (relaksasi,
fantasi, dll) untuk menurunkan nyeri.
7.
Jelaskan prosedur yang dapat meningkatkan
nyeri dan mengurangi nyeri
8.
Kolaborasi dengan dokter
untuk pemberian: analgetik sesuai indikasi
2.12 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan
neuromuskuler
Definisi: keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu
atau lebih ekstrimitas secara mandiri dan terarah
Tujuan:
1.
Aktivitas fisik meningkat.
2.
ROM normal.
3.
Melaporkan perasaan
peningkatan kekuatan dalam bergerak..
4.
Klien bisa melakukan aktivitas.
Intervensi:
1.
Pastikan keterbatasan
gerak sendi yang dialami.
2.
Motivasi klien untuk
mempertahankan pergerakan sendi.
3.
pastikan klien bebas dari
nyeri sebelum diberikan latihan.
4.
Ajarkan ROM exercise aktif
dan pasif; jadual; keteraturan, latih ROM pasif dan aktif
5.
Anjurkan dan Bantu klien
duduk di tempat tidur sesuai toleransi
6.
Atur posisi setiap 2 jam atau sesuai
toleransi.
7.
Fasilitasi penggunaan alat Bantu.
8.
Jelaskan manfaat ROM aktif
dan pasif
9.
Kolaborasi dengan
fisioterapi
2.13 Pelaksanaan (cheklist terlampir)
1.Bodi alignment
ü Membantu klien dengan masalah berdiri
dan duduk
ü Mengatur berbagai posisi klien
ü Papan sandaran
2.Ambulasi
ü Memindahkan klien dari tempat tidur ke (TT) ke kursi/ kursi
roda/ brankar dan sebaliknya
ü Membantu klien berjalan
ü Membantu klien dengan alat bantu jalan
Evaluasi
Evaluasi yang
diharapkan dari hasil tindakan keperawatan untuk mengatasi gangguan postur tubuh
adalah tidak terjadi perubahan atau kesalahan dalam postur tubuh dan pasien
mampu melaksanakan aktifitas dengan mudah serta tidak merasakan kelemahan.Kelainan
postur yg didpat atau congenital mempengaruhi efisiensi system moskuloskeletal,
spt kesejajaran tubuh keseimbangan dan penampilan.
2.13 Macam- macam
abnormal:
a. Tortikolis
Diskripsi:
mencondongkan kepala ke sisi yang sakit, dimana otot sternokleidomastoideus
berkontraksi.
Penyebab: kondisi congenital.
Penatalaksanaan:
operasi, pemanasan, topangan, atau imobilisasi berdasarkan penyebab dan tingkat
keparahan.
b. Kifosis
Diskripsi
: peningkatan kelengkungan pada kurva spinal torakal.
Penyebab
: kondisi congenital, penyakit tulang atau ricket tuberkolosis spinal.
Penatalaksanaan: latihan peregangan spinal, tidur tanpa bantal,
menggunakan papan tempat tidur, memakai jaket, penggabungan spinal (berdasarkan
penyebab dan tingkat keparahan).
c. Kifolordosis
Diskripsi: kombinasi dari kifosis dan lordosis.
Penyebab: kondisi congenital.
Penatalaksanaan:
sama dengan metode yang digunakan untuk kifosis dan lordosis berdasarkan
penyebab.
d. Skoliosis
Diskripsi: kurvatura spinal lateral, tinggi pinggul dan bahu
tidak sama.
Penyebab: kondisi congenital, poliomyelitis, paralisis spastic,
panjang kaki tidak sama
Penatalaksanaan:
immobilisasi dan operasi (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).
e. Kifoskoliosis
Diskripsi: tidak normalnya kurva spinal anteroposteriol dan
lateral.
Penyebab: kondisi congenital, poliomyelitis, kor pulmonal.
Penatalaksanaan: immobilisasi dan operasi (berdasarkan penyebab
dan tingkat keparahan).
f.Dysplasia Pnggung Kongenital
Diskripsi: ketidakstabilan pinggul dengan keterbatasan abduksi
pinggul, dan kadang-kadang kontraktur adduksi (kaput vemur tidak bersambung
dengan assetatbulum karena abnormal kedangkalan assetatbulum).
Penyebab: kondisi congenital (biasanya dengan kelahiran sungsang).
Penatalaksanaan: mempertahankan abduksi paha yang terus menerus
sehingga kaput vemur menekan ke bagian tengah assetatbulum, beban abduksi,
gips, pembedahan.
g.Knock-knee (genu varum)
diskripsi: kurva kaki yang masuk ke dalam sehingga lutut rapat
jika seseorang berjalan.
Penyebab: kondisi
congenital, penyakit tulang atau ricket.
Penatalaksanaan:
knee braces, operasi jika tidak dapat diperbaiki oleh pertumbuhan.
deskripsi: adalah kelainan pada tulang belakang dimana hyperekstensi dari
tulang lumbal.
Diskripsi: kurva anterior pada spinal lumbal yang melengkung
berlebihan.
Penyebab: kondisi congenital, kondisi temporer missal,
kehamilan.
Penatalaksanaan: latihan peregangan spinal berdasarkan penyebab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar