Jumat, 25 April 2014

body mekanik


2.1     Pengertian Mekanik Tubuh
Mekanika Tubuh adalah suatu usaha mengkoordinasikan sistem muskuloskeletal  dan sistem syaraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak, dan melakukan aktivitas sehari-hari ( Potter & Perry, 2005).

2.2  Elemen Body Mekanik
Body Mekanik meliputi 3 elemen dasar yaitu :
a. Body Alignment (Postur Tubuh)Susunan geometrik bagian-bagian tubuh dalam hubungannya dengan bagian tubuh yang lain.
b. Balance / KeseimbanganKeseimbangan tergantung pada interaksi antara pusat gravity, line gravity dan base of support.
c. Koordinated body movement (Gerakan tubuh yang terkoordinir)Dimana body mekanik berinteraksi dalam fungsi muskuloskeletal dan sistem syaraf.

2.3    Prinsip body mekanik
1. Gravity : Merupakan prinsip pertama yang harus diperhatikan dalam melakukann mekanika tubuh dengan benar, yaitu memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh. Terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam gravitasi:
a.Pusat gravitasi ( center of gravitasi ), titik yang berada dipertengahan tubuh
b.Garis gravitasi ( Line Of gravitasi ), merupakan garis imaginer vertikal melalui   pusat gravitasi.
c.Dasar tumpuan ( base of suport ), merupakan dasar tempat seseorang dalam keadaan istirahat untuk menopang atau menahan tubuh
2. Balance (Keseimbangan) : Keseimbangan dalam penggunaan mekanika tubuh dicapai dengan cara mempertahankan posisi garis gravitasi diantara pusat gravitasi dan dasar tumpuan.
3. Weight (berat) : Dalam menggunakan mekanika tubuh sangat dipehatikan adalah berat atau bobot benda yang akan diangkat karena berat benda akan mempengaruhi mekanika tubuh.
2.4    Pergerakan dasar yang digunakan dalam Body Mekanik
a.  Gerakan ( ambulating ).Gerakan yang benar dapat membantu keseimbangan tubuh. Sebagai contoh, keseimbangan pada saat orang berdiri dan saat orang berjalan kaki berbeda.  Orang berdiri akan lebih mudah stabil dibanding dengan orang yang berjalan, karena pada posisi berjalan terjadi perpindahan dasar tumpuan dari sisi satu ke sisi yang lain dan pusat gravitasi selalu berubah pada posisi kaki. Pada saat berjalan terdapat dua fase yaitu fase menahan berat dan fase mengayun, yang akan menghasilkan gerakan halus dan berirama.
b.Menahan ( squating ).Dalam melakukan pergantian, posisi menahan selalu berubah. Sebagai contoh, posisi orang yang duduk akan berbeda dengan orang yang jongkok dan tentunya juga berbeda dengan posisi membungkuk. Gravitasi adalah hal yang perlu diperhatikan untuk memberikan posisi yang tepat dalam menahan. Dalam menahan sangat diperlukan dasar tumpuan yang tepat untuk mencegah kelainan tubuh dan memudahkan gerakan yang akan dilakukan.
c.      Menarik ( pulling ).Menarik dengan benar akan memudahkan untuk memindahkan benda. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menarik benda, di antaranya ketinggian, letak benda ( sebaiknya berada di depan orang yang akan menarik ), posisi kaki dan tubuh dalam menarik ( seperti condong kedepan dari panggul ), sodorkan telapak tangan dan lengan atas di bawah pusat gravitasi pasien, lengan atas dan siku diletakkan pada permukaan tempat tidur, pinggul, lutut dan pergelangan kaki ditekuk lalu lakukan penarikan.
d.     Mengangkat ( lifting ).Mengangkat merupakan cara pergerakan daya tarik. Gunakan otot – otot besar dari tumit, paha bagian atas, kaki bagian bawah, perut dan pinggul untuk mengurangi rasa sakit pada daerah tubuh bagian belakang.
e.     Memutar ( pivoting ).Memutar merupakan gerakan untuk memutar anggota tubuh dan bertumpu pada tulang belakang. Gerakan memutar yang baik memperhatikan ketiga unsur gravitasi dalam pergerakan agar tidak memberi pengaruh buruk pada postur tubuh

2.4  Faktor-faktor yang mempengaruhi body mekanik :
a.       Status kesehatan : Perubahan status kesehatan dapat mempengaruhi sistem muskuloskeletal dan sistem saraf berupa penurunan koordinasi. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh penyakit, berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari – hari dan lain – lainnya.
b.      Nutrisi : Salah satu fungsi nutrisi bagi tubuh adalah membantu proses pertumbuhan tulang dan perbaikan sel. Kekurangan nutrisi bagi tubuh dapat menyebabkan kelemahan otot dan memudahkan terjadinya penyakit. sebagai contoh tubuh yang kekurangan kalsium akan lebih mudah mengalami fraktur.
c.       Emosi : Kondisi psikologis seseorang dapat menurunkan kemampuan mekanika tubuh dan ambulansi yang baik, seseorang yang mengalami perasaan tidak aman, tidak bersemangat, dan harga diri rendah. Akan mudah mengalami perubahan dalam mekanika tubuh dan ambulasi.
d.      Situasi dan Kebiasaan : Situasi dan kebiasaan yang dilakukan seseoarang misalnya, sering mengankat benda-benda berat, akan menyebabkan perubahan mekanika tubuh dan ambulasi.
e.       Gaya Hidup : Gaya hidup, perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stress dan kemungkinan besar akan menimbulkan kecerobohan dalam beraktivitas, sehingga dapat menganggu koordinasi antara sistem muskulusletal dan neurologi, yang akhirnya akan mengakibatkan perubahan mekanika tubuh.
f.       Pengetahuan : Pengetahuan yang baik terhadap penggunaan mekanika tubuh akan mendorong seseorang untuk mempergunakannya dengan benar, sehingga mengurangi tenaga yang dikeluarkan. Sebaliknya, pengetahuan yang kurang memadai dalam penggunaan mekanika tubuh akan menjadikan seseorang beresiko mengalami gangguan koordinasi sistem neurologi dan muskulusletal.


2.5  Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan aktivitas:
1.      TulangTulang merupakan organ yang mempunyai berbagai fungsi, fungsi mekanis untuk membentuk rangka dan tempat melekatnya berbagai otot, fungsi sebagai tempat menyimpan mineral kususnya kalsium dan fosfor yang bisa dilepaskan setiap saat sesuai kebutuhan, fungsi tempat sumsum tulang dalam membentuk sel darah, dan fungsi pelindung organ-organ dalam.
2.      Otot dan tendo
Tubuh memiliki mempunyai kemampuan berkontraksi yang memungkinkan tubuh bergerak sesuai keinginan. Otot memiliki origo dan insersinya tulang, serta dihubungkan dengan tulang melalui tendon, yaitu suatu jaringan ikat yang melekat sangat kuat pada tempat insersinya tulang
.3.      Ligamen
Ligamen merupakan bagian yang menghubungkan tulang dengan tulang. Ligamen pada lutut merupakan penjaga stabilitas.
4.      Sistem syaraf
Syaraf terdiri dari syaraf pusat (otak dan medula spinalis) dan syaraf tepi (percabangan dari syaraf pusat). Bagian somatis memiliki fungsi sensorik dan motorik. Kerusakan pada syaraf pusat seperti kerusakan tulang belakang akan menyebabkan kelemahan umum, sedangkan kerusakan saraf tepi menyebabkan terganggunya daerah yang diinervasi dan kerusakan pada saraf radial akan menyebabkan drop hand atau gangguan sensorik di daerah radial tangan.
5.      Sendi
Sendi merupakan tempat dua atau lebih tulang bertemu.

2.6   Konsekuensi body mekanik yang buruk
 1. Jatuh
2. Cidera belakang (Harber (1985), memberikan daftar penyebab cidera belakang yang paling sering terjadi pada perawat yang bekerja di rumah sakit yaitu :
.      Mengangkat pasien ke atas tempat tidur (48%)
.      Membantu pasien turun dari tempat tidur (30%)
.      Memindahkan bed (27%)
.      Mengangkat pasien keatas brankat(22%)

2.7    Dampak dari penggunaan mekanika tubuh yang salah
1.      Terjadi ketegangan sehingga memudahkan timbulnya kelelahan dan gangguan dalam sistem muskulusletal.
2.      Resiko terjadinya kecelakaan pada sistem muskulusletal. Seseorang  salah dalam berjongkok atau berdiri, maka akan memudahkan terjadinya gangguan dalam struktur muskulusletal,  misalnya kelainan pada tulang vertebrata


2.8  Bodi mekanik
1.      Body alignment
a.      Membantu pasien berdiri
Pengertian:Suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang imobilisasi atau klien lemah untuk memberikan bantuan berdiri.

b.      Membantu pasien duduk
Pengertian:Suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang imobilisasi atau klien lemah untuk memberikan bantuan duduk ditempat tidur.Tujuan:Mengurangi risiko cedera muskuloskeletal pada semua orang yang terlibat.

c.       Mengatur berbagai posisi klien
1)      Posisi fowler
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan setinggi 15°- 90°.Tujuannya  untuk mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi fungsi kenyamanan pasien, Melakukan aktivitas ttu, Mengatasi kesulitan pernafasan & KV pernafasan pasien.Fowler : 45 – 90o   dan Semi fowler : 15 – 45o
2)      Posisi dorsal recumbent
Adalah dimana posisi kepala dan bahu pasien sedikit mengalami elevasi diatas bantal, kedua lengan berada di samping sisi tubuh, posisi kaki fleksi dengan telapak kaki datar diatas tempat tidur. Tujuannya untuk memeriksa daerah genetalia, pasang cateter, serta pada proses persalinan
3)      Posisi Trendelenburg
Adalah posisi pasien berbaring di TT dg bagian kepala lebih rendah daripada  bagian kakiTujuan : Melancarkan peredaran darah ke otak
4)      Posisi antitrendelenberg
Adalah posisi pasien berbaring di TT dengan kaki lebih tinggi dari  kepala.Tujuan : tindakan menurunkan tekanan intrakranial pada pasien trauma kapitis.
5)      Posisi pronasi/ tengkurap
Adalah dimana posisi pasien berbaring diatas abdomen dengan kepala menoleh kesalah satu sisi. Kedua lengan fleksi disamping kepala. Posisi ini memiliki beberapa tujuan diantaranya :
a.Memberikan ekstensi penuh pada persendian pinggul dan lutut.
b.Mencegah terjadinya fleksi kontraktur dari pinggul dan sendi.
c.Membantu drainase dari mulut.
6)      Posisi lateral (side lying)
Yaitu seorang tidur diatas salah satu sisi tubuh, dengan membentuk fleksi pada pinggul dan lutut bagian atas dan meletakkannya lebih depan dari bagian tubuh yang lain dengan kepala menoleh kesamping.Tujuan posisi ini : Mengurangi lordosis & meningkatkan kelurusan punggung , Baik untuk posisi tidur & istirahat, Membantu menghilangkan tekanan pada sakrum
7)      Posisi supine/ terlentang.
Ini biasanya disebut berbaring telentang, datar dengan kepala dan bahu sedikit elevasi dengan menggunakan bantal. Posisi pasien harus di tengah-tengah tempat tidur, sekitar tiga inci di bawah kepala tempat tidur.Tujuan : Klien pasca operasi dengan anestesi spinal, Mengatasi masalah yg timbul akibat pemberian posisi pronasi yg tidak tepat.
8)      Posisi Sim’s
Adalah posisi dimana tubuh miring kekiri atau kekanan.Tujuan posisi ini :untuk memberikan kenyamanan dan memberikan obat per anus (supositoria).Memfasilitasi drainase dari mulut pada klien tidak sadarMengurangi penekanan pada sakrum & trokanter mayor pada klien paralisis.Memudahkan pemeriksaan perineal.Untuk tindakan pemberian enema.

9)      Posisi Genu pectoral/knee chest position
posisi pasien berbaring dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian alas TTTujuan : memeriksa daerah rectum & sigmoid
 10)  Posisi Litotomi
posisi pasien berbaring terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya keatas bagian perutTujuan : Merawat atau memeriksa genetalia pada proses persalinan, memasang alat kontrasepsi
11)  Posisi Orthopneik
posisi adaptasi dari fowler tinggi. Klien duduk di TT atau tepi TT dg meja yang menyilang diatas TT (90o).Tujuan : membantu mengatasi masalah kesulitan bernafas dg ekspansi dada maksimum, membantu klien yg mengalami inhalasi
2.      Ambulasi
1.     Memindahkan klien dari tempat tidur  (TT) ke kursi/ kursi roda
a. Memindahkan klien dari tempat tidur ke kursiPengertian : Memindahkan klien yang tirah baring ke kursi
b. Memindahkan klien dari tempat tidur (TT) ke kursi rodaPengertian : Memindahkan klien dari tempat tidur ke kursi roda
2.     Memindahkan klien dari tempat tidur (TT) ke brankard (TT) dan sebaliknya
A.    Memindahkan klien dari TT ke brankard/ TT dan sebaliknya dengan cara diangkat.
B.     Memindahkan klien dari TT ke brankar/ TT dan sebaliknya dengan easy move.
C.      Memindahkan klien dari TT ke brankard dan sebaliknya dengan Scoop Stretcher
3.     Membantu klien berjalanTujuan: Memulihkan kembali toleransi aktivitas, Mencegah terjadinya kontraktur sendi dan flaksid otot
4.      Membantu klien dengan alat bantu jalan (Kruk)Tujuan : Membantu melatih kemampuan gerak klien, melatih dan meningkatkan mobilisasi.Mencapai kestabilan klien dalam berjalan.Manfaat : Klien mampu berjalan dengan menggunakan alat bantu dan meningkatnya kemampuan mobilisasi klien.

2.9 Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan bodi mekanik
PengkajianUntuk melakukan pengkajian body mekanik dan alignment lakukan inspeksi terhadap pada pasien pada saat berdiri,duduk maupun berbaring. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji antara lain :
1. Posisi berdiriLakukan inspeksi melalui sudut pandang secara : Anterior,Lateral dan posterior. Pasien dalam posisi berdiri dengan kepala tegak dan mata lurus kedepan serta bahu dan pinggul harus lurus dan sejajar, apabila posisi tidak sesuai dengan posisi berdiri yang benar maka dapat diidentifikasikan bahwa ada gangguan pada otot dan tulang pasien.
2. Posisi dudukPada saat keadaan ini normalnya kepala dan dada akan akan memiliki keadaan yang sama pada saat posisi berdiri yaitu kepala pasien harus tegak lurus dengan leher dan verterba kolumna telapak kaki lurus berpijak pada lantai. Pasien yang dalam keadaan abnormal akan mengalami kelemahan otot atau pralis otot serta adanya sensasi (kerusakan saraf)
3. Posisi berbaringLetakan pasien pada posisi lateral semua bantal dan penyokong posisi dipindahkan dari tempat tidur, kemudian tubuh ditopang dengan kasur yang cukup dan vertebra harus lurus dengan alas yang ada . apabila dijumpai kelainan pada pasien, maka terdapat penurunan sensasi atau gangguan sirkulasi serta adanya kelemahan.
Cara berjalanDikaji untuk mengetahui mobilitas dan kemungkinan resiko cedera akibat dari terjatuh, pasien diminta berjalan sepanjang 10 langkah kemudian perawat memperhatikan hal-hal berikut ini :
1.      Kepala tegak, pandangan lurus kedepan, punggung tegak.
2.      Tumit menyentuh tanah terlebih dahulu sebelum jari-jari kaki.
3.      Langkah lembut, terkoordinasi dan ritmik
4.      Mudah untuk memulai dan mengakhiri berjalan  
5.      Jumlah langkah per menit (pace) 70-100 X per menit, kecuali pada orang tua mungkin 40 X per menit.
2.10  Diagnosa Keperawatan
.      Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang
.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neurovasculer
.      Resiko cedera berhubungan dengan gangguan keseimbangan yang disertai kelemahan otot
.      Perencanaan Keperawatan


2.11  Nyeri akut behubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang
Definisi:
            perasaan sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa; awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi berlangsung < 6 bulan.Tujuan:
1)             Klien mengatakan nyeri yang  dirasakan berkurang.
2)             Klien dapat mendeskripsikan  bagaimana mengontrol nyeri
3)             Klien mengatakan kebutuhan  istirahat dapat terpenuhi
4)             Klien dapat menerapkan metode non farmakologik untuk mengontrol nyeri
Intervensi:
1.      Identifikasi nyeri yang dirasakan klien (P, Q, R, S, T).
2.      Eksplor faktor-faktor penyebab nyeri.
3.      Kaji pengalaman klien masa lalu dalam mengatasi nyeri.
4.       Pantau tanda-tanda vital.
5.       Berikan tindakan kenyamanan.
6.       Ajarkan teknik non farmakologik (relaksasi, fantasi, dll) untuk menurunkan nyeri.
7.       Jelaskan prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan mengurangi nyeri
8.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian: analgetik sesuai indikasi
2.12 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler
Definisi: keterbatasan pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstrimitas secara mandiri dan terarah
Tujuan:
1.      Aktivitas fisik meningkat.
2.      ROM normal.
3.      Melaporkan perasaan peningkatan kekuatan dalam bergerak..
4.       Klien bisa melakukan aktivitas.
Intervensi:
1.      Pastikan keterbatasan gerak sendi yang dialami.
2.      Motivasi klien untuk mempertahankan pergerakan sendi.
3.      pastikan klien bebas dari nyeri sebelum diberikan latihan.
4.      Ajarkan ROM exercise aktif dan pasif; jadual; keteraturan, latih ROM pasif dan aktif
5.      Anjurkan dan Bantu klien duduk di tempat tidur sesuai toleransi
6.       Atur posisi setiap 2 jam atau sesuai toleransi.
7.       Fasilitasi penggunaan alat Bantu.
8.      Jelaskan manfaat ROM aktif dan pasif
9.      Kolaborasi dengan fisioterapi
2.13 Pelaksanaan (cheklist terlampir)
1.Bodi alignment
ü  Membantu klien dengan masalah berdiri dan duduk
ü   Mengatur berbagai posisi klien
ü  Papan sandaran
2.Ambulasi
ü  Memindahkan klien dari tempat tidur ke (TT) ke kursi/ kursi roda/ brankar dan sebaliknya
ü  Membantu klien berjalan
ü  Membantu klien dengan alat bantu jalan

EvaluasiEvaluasi yang diharapkan dari hasil tindakan keperawatan untuk mengatasi gangguan postur tubuh adalah tidak terjadi perubahan atau kesalahan dalam postur tubuh dan pasien mampu melaksanakan aktifitas dengan mudah serta tidak merasakan kelemahan.Kelainan postur yg didpat atau congenital mempengaruhi efisiensi system moskuloskeletal, spt kesejajaran tubuh keseimbangan dan penampilan.
2.13  Macam- macam abnormal:
a.  TortikolisDiskripsi: mencondongkan kepala ke sisi yang sakit, dimana otot sternokleidomastoideus berkontraksi.Penyebab: kondisi congenital.Penatalaksanaan: operasi, pemanasan, topangan, atau imobilisasi berdasarkan penyebab dan tingkat     keparahan.
b.  Kifosis
Diskripsi : peningkatan kelengkungan pada kurva spinal torakal.Penyebab : kondisi congenital, penyakit tulang atau ricket tuberkolosis spinal.Penatalaksanaan: latihan peregangan spinal, tidur tanpa bantal, menggunakan papan tempat tidur, memakai jaket, penggabungan spinal (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).
c.   Kifolordosis
Diskripsi: kombinasi dari kifosis dan lordosis.Penyebab: kondisi congenital.Penatalaksanaan: sama dengan metode yang digunakan untuk kifosis dan lordosis berdasarkan penyebab.
d.    Skoliosis
Diskripsi: kurvatura spinal lateral, tinggi pinggul dan bahu tidak sama.Penyebab: kondisi congenital, poliomyelitis, paralisis spastic, panjang kaki tidak samaPenatalaksanaan: immobilisasi dan operasi (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).
e. Kifoskoliosis
Diskripsi: tidak normalnya kurva spinal anteroposteriol dan lateral.Penyebab: kondisi congenital, poliomyelitis, kor pulmonal.Penatalaksanaan: immobilisasi dan operasi (berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan).
f.Dysplasia Pnggung Kongenital
Diskripsi: ketidakstabilan pinggul dengan keterbatasan abduksi pinggul, dan kadang-kadang kontraktur adduksi (kaput vemur tidak bersambung dengan assetatbulum karena abnormal kedangkalan assetatbulum).Penyebab: kondisi congenital (biasanya dengan kelahiran sungsang).Penatalaksanaan: mempertahankan abduksi paha yang terus menerus sehingga kaput vemur menekan ke bagian tengah assetatbulum, beban abduksi, gips, pembedahan.
g.Knock-knee (genu varum)
diskripsi: kurva kaki yang masuk ke dalam sehingga lutut rapat jika seseorang berjalan.Penyebab: kondisi congenital, penyakit tulang atau ricket.Penatalaksanaan: knee braces, operasi jika tidak dapat diperbaiki oleh pertumbuhan.
h.     Lordosis
deskripsi: adalah kelainan pada tulang belakang dimana hyperekstensi dari tulang lumbal.Diskripsi: kurva anterior pada spinal lumbal yang melengkung berlebihan.Penyebab: kondisi congenital, kondisi temporer missal, kehamilan.Penatalaksanaan: latihan peregangan spinal berdasarkan penyebab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar