2.1 Konsep Kateterisasi
Kateter adalah pipa
untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan yang terbuat dari bahan
karet atau plastik, metal, woven silk dan silikon.Keteterisasi
adalah tindakan memasukkan kateter yang steril ke dalam kandung kemih melalui
uretra untuk membantu memenuhi kebutuhan eliminasi, sebagai pengambilan bahan
pemeriksaan. Kateterisasi terbagi menjadi dua tipe:
1. Kateter
Sementara (Straight Kateter)
Dilakukan dengan cara kateter lurus yang
sekali pakai dimasukkan sampai mencapai kandung kemih yang bertujuan untuk
mengeluarkan urin yang dapat dilakukan selama 5 sampai 10 menit.Pada saat
kandung kemih kosong maka kateter kemudian ditarik keluar, pemasangan kateter
intermitten dapat dilakukan berulang jika tindakan ini diperlukan, tetapi
penggunaan yang berulang meningkatkan resiko infeksi (Potter dan Perry, 2002
).Pemasangan kateter sementara dilakukan jika tindakan untuk mengeluarkan urin
dari kandung kemih pasien dibutuhkan. Efek samping dari penggunaan kateter ini
berupa pembengkakan pada uretra, yang terjadi saat memasukkan kateter dan dapat
menimbulkan infeksi (Thomas, 2007).
2.
Kateter Menetap (Foley Kateter)
Digunakan untuk waktu
yang lebih lama dan ditempatkan dalam kandung kemih untuk beberapa minggu
pemakaian sebelum dilakukan pergantian kateter. Pemasangan kateter ini
dilakukan sampai klien mampu berkemih dengan tuntas dan spontan atau selama
pengukuran urin akurat dibutuhkan (Potter dan Perry, 2005). Pemasangan kateter
ini dilakukan dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping).
Pemakaian kateter menetap ini banyak menimbulkan infeksi atau sepsis. Kateter
menetap terdiri atas foley kateter (double lumen) dimana satu lumen berfungsi
untuk mengalirkan urin dan lumen yang lain berfungsi untuk mengisi balon dari
luar kandung kemih. Tipetriple lumen terdiri dari tiga lumen yang
digunakan untuk mengalirkan urin dari kandung kemih, satu lumen untuk
memasukkan cairan ke dalam balon dan lumen yang ketiga dipergunakan untuk
melakukan irigasi pada kandung kemih dengan cairan atau pengobatan (Potter dan
Perry, 2005).
2.1.1
Tujuan Kateterisasi
1.
Untuk mengeluarkan urine.
2.
Menghilangkan ketidaknyamanan karena distensi kandung kemih.
3.
Mendapatkan urine steril untuk specimen.
4.
Pengkajian residu urine.
5.
Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma medulla
spinalis, gangguan neuromuskular, atau inkompeten kandung kemih. Serta pasca
operasi besar.
6.
Mengatasi obstruksi aliran urine.
7.
Mengatasi retensi perkemihan.
8.
Melancarkan pengeluaran urin pada klien yang tidak dapat
mengontrol miksi atau mengalami obstruksi pada saluran kemih.
9.
Memantau pengeluaran urine pada klien yang mengalami gangguan
hemodinamik.
2.2
Indikasi Kateter
1.
Kateter sementara.
a. Mengurangi ketidaknyamanan pada distensi
vesika urinaria.
b. Pengambilan urine residu setelah
pengosongan urinaria.
2.
Kateter tetap jangka pendek.
a. Obstruksi saluran kemih (pembesaran
kelenjar prostat)
b. Pembedahan untuk
memperbaiki organ perkemihan, seperti vesika urinaria, urethra dan organ
sekitarnya.
c. Preventif pada obstruksi urethra dari
pendarahan.
d. Untuk memantau output urine.
e. Irigasi vesika urinaria.
3.
Kateter tetap jangka panjang.
a. Retensi urine pada penyembuhan penyakit
ISK/UTI.
b. Skin rash, ulcer dan luka yang iritatif
apabila kontak dengan urine.
c. Klien dengan penyakit terminal.
2.3 Proses Kateterisasi
1. Alat dan Bahan
|
Alat
|
Bahan
|
|
a.
Sarung tangan steril
b.
Kateter steril
d.
Spuit
e.
Perlak dan alasnya
f.
Pinset anatomi steril
g.
Bengkok
h.
Urineal bag
i.
Perban
j.
Baskom
k.
Handuk kecil
l.
Sampiran
|
a.
Minya pelumas atau jelly
b.
Larutan pembersih antiseptik
c.
Kapas + cairan sublimate
d.
Plaster
e.
Aqua steril
f.
Air hangat
g.
Sabun
h.
Alkohol
|
2.
Prosedur
-
Pada perempuan
a.
Cuci tangan.
b.
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
c.
Atur ruangan
d.
Pasang perlak atau alas.
e.
Gunakan sarung tangan steril.
f.
Pasang duk steril.
g.
Bersihkan vulva dengan kapas sublimat dari atas ke bawah (±3
kali hingga bersih).
h.
Kateter diberi minyak
pelumas atau jelly pada ujungnya.
i.
Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kanan
memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam .
Mengkaji kelancaran pemasukan kateter, jika ada hambatan kateterisasi
dihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar.
Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnya
dimasukkan lagi kurang lebihcm.
j.
Setelah selesai, isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya
dengan menggunakan spuit untuk yang dipasang tetap. Bila tidak dipasang tetap,
tarik kembali sambil pasien disuruh napas dalam.
k.
Sambung kateter dengan urineal bag dan fiksasi kearah samping.
l.
Rapikan alat.
m.
Cuci tangan.
n.
Catat prosedur dan respon pasien meliputi :
-
Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
-
Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
-
Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang
ditemukan
-
Nama terang dan tanda tangan pemasang
-
Pada Laki-laki
a. Jelaskan prosedur
b. Cuci tangan
c.
Pasang sampiran
d.
Pasang perlak
e.
Gunakan sarung tangan steril
f.
Pasang duk steril
g.
Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan
tubuh untuk meluruskan uretra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah
dimasukkan. Desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar
sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada saat
pelaksanaan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan membersihkannya
dengan kapas sublimat.
h.
Kateter diberi minyak pelumas atau jeli pada ujungnya (kurang
lebih 12,5-17,5 cm)
i.
Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh
penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang
kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan(kurang lebih 17,5-20 cm) dan hati-hati bersamaan penderita menarik
nafas dalam.
j.
Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti
sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan.
Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan
kateter sampai urine keluar sedalam 5 – 7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi kurang
lebih 3 cm.
k.
Jika tertahan jangan dipaksa
l.
Setelah kateter masuk, isi balon dengan cairan aquades atau
sejenisnya untuk kateter menetap, dan bila intermiten tarik kembali ambil
pasien diminta menarik napas dalam.
m.
Sambung kateter dengan kantung penampung dan viksasi kearah atas
paha/abdomen.
n.
Rapikan alat.
o.
Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
p.
Catat prosedur dan respon pasien.
- Hari tanggal dan jam
pemasangan kateter
- Tipe dan ukuran
kateter yang digunakan
- Jumlah, warna, bau
urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
- Nama terang dan tanda
tangan pemasang
2.1 Konsep Kateterisasi
Kateter adalah pipa
untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan yang terbuat dari bahan
karet atau plastik, metal, woven silk dan silikon.Keteterisasi
adalah tindakan memasukkan kateter yang steril ke dalam kandung kemih melalui
uretra untuk membantu memenuhi kebutuhan eliminasi, sebagai pengambilan bahan
pemeriksaan. Kateterisasi terbagi menjadi dua tipe:
1. Kateter
Sementara (Straight Kateter)
Dilakukan dengan cara kateter lurus yang
sekali pakai dimasukkan sampai mencapai kandung kemih yang bertujuan untuk
mengeluarkan urin yang dapat dilakukan selama 5 sampai 10 menit.Pada saat
kandung kemih kosong maka kateter kemudian ditarik keluar, pemasangan kateter
intermitten dapat dilakukan berulang jika tindakan ini diperlukan, tetapi
penggunaan yang berulang meningkatkan resiko infeksi (Potter dan Perry, 2002
).Pemasangan kateter sementara dilakukan jika tindakan untuk mengeluarkan urin
dari kandung kemih pasien dibutuhkan. Efek samping dari penggunaan kateter ini
berupa pembengkakan pada uretra, yang terjadi saat memasukkan kateter dan dapat
menimbulkan infeksi (Thomas, 2007).
2.
Kateter Menetap (Foley Kateter)
Digunakan untuk waktu
yang lebih lama dan ditempatkan dalam kandung kemih untuk beberapa minggu
pemakaian sebelum dilakukan pergantian kateter. Pemasangan kateter ini
dilakukan sampai klien mampu berkemih dengan tuntas dan spontan atau selama
pengukuran urin akurat dibutuhkan (Potter dan Perry, 2005). Pemasangan kateter
ini dilakukan dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping).
Pemakaian kateter menetap ini banyak menimbulkan infeksi atau sepsis. Kateter
menetap terdiri atas foley kateter (double lumen) dimana satu lumen berfungsi
untuk mengalirkan urin dan lumen yang lain berfungsi untuk mengisi balon dari
luar kandung kemih. Tipetriple lumen terdiri dari tiga lumen yang
digunakan untuk mengalirkan urin dari kandung kemih, satu lumen untuk
memasukkan cairan ke dalam balon dan lumen yang ketiga dipergunakan untuk
melakukan irigasi pada kandung kemih dengan cairan atau pengobatan (Potter dan
Perry, 2005).
2.1.1
Tujuan Kateterisasi
1.
Untuk mengeluarkan urine.
2.
Menghilangkan ketidaknyamanan karena distensi kandung kemih.
3.
Mendapatkan urine steril untuk specimen.
4.
Pengkajian residu urine.
5.
Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma medulla
spinalis, gangguan neuromuskular, atau inkompeten kandung kemih. Serta pasca
operasi besar.
6.
Mengatasi obstruksi aliran urine.
7.
Mengatasi retensi perkemihan.
8.
Melancarkan pengeluaran urin pada klien yang tidak dapat
mengontrol miksi atau mengalami obstruksi pada saluran kemih.
9.
Memantau pengeluaran urine pada klien yang mengalami gangguan
hemodinamik.
2.2
Indikasi Kateter
1.
Kateter sementara.
a. Mengurangi ketidaknyamanan pada distensi
vesika urinaria.
b. Pengambilan urine residu setelah
pengosongan urinaria.
2.
Kateter tetap jangka pendek.
a. Obstruksi saluran kemih (pembesaran
kelenjar prostat)
b. Pembedahan untuk
memperbaiki organ perkemihan, seperti vesika urinaria, urethra dan organ
sekitarnya.
c. Preventif pada obstruksi urethra dari
pendarahan.
d. Untuk memantau output urine.
e. Irigasi vesika urinaria.
3.
Kateter tetap jangka panjang.
a. Retensi urine pada penyembuhan penyakit
ISK/UTI.
b. Skin rash, ulcer dan luka yang iritatif
apabila kontak dengan urine.
c. Klien dengan penyakit terminal.
2.3 Proses Kateterisasi
1. Alat dan Bahan
|
Alat
|
Bahan
|
|
a.
Sarung tangan steril
b.
Kateter steril
d.
Spuit
e.
Perlak dan alasnya
f.
Pinset anatomi steril
g.
Bengkok
h.
Urineal bag
i.
Perban
j.
Baskom
k.
Handuk kecil
l.
Sampiran
|
a.
Minya pelumas atau jelly
b.
Larutan pembersih antiseptik
c.
Kapas + cairan sublimate
d.
Plaster
e.
Aqua steril
f.
Air hangat
g.
Sabun
h.
Alkohol
|
2.
Prosedur
-
Pada perempuan
a.
Cuci tangan.
b.
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
c.
Atur ruangan
d.
Pasang perlak atau alas.
e.
Gunakan sarung tangan steril.
f.
Pasang duk steril.
g.
Bersihkan vulva dengan kapas sublimat dari atas ke bawah (±3
kali hingga bersih).
h.
Kateter diberi minyak
pelumas atau jelly pada ujungnya.
i.
Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kanan
memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam .
Mengkaji kelancaran pemasukan kateter, jika ada hambatan kateterisasi
dihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar.
Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnya
dimasukkan lagi kurang lebihcm.
j.
Setelah selesai, isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya
dengan menggunakan spuit untuk yang dipasang tetap. Bila tidak dipasang tetap,
tarik kembali sambil pasien disuruh napas dalam.
k.
Sambung kateter dengan urineal bag dan fiksasi kearah samping.
l.
Rapikan alat.
m.
Cuci tangan.
n.
Catat prosedur dan respon pasien meliputi :
-
Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
-
Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
-
Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang
ditemukan
-
Nama terang dan tanda tangan pemasang
-
Pada Laki-laki
a. Jelaskan prosedur
b. Cuci tangan
c.
Pasang sampiran
d.
Pasang perlak
e.
Gunakan sarung tangan steril
f.
Pasang duk steril
g.
Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan
tubuh untuk meluruskan uretra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah
dimasukkan. Desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar
sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada saat
pelaksanaan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan membersihkannya
dengan kapas sublimat.
h.
Kateter diberi minyak pelumas atau jeli pada ujungnya (kurang
lebih 12,5-17,5 cm)
i.
Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh
penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang
kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan(kurang lebih 17,5-20 cm) dan hati-hati bersamaan penderita menarik
nafas dalam.
j.
Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti
sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan.
Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan
kateter sampai urine keluar sedalam 5 – 7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi kurang
lebih 3 cm.
k.
Jika tertahan jangan dipaksa
l.
Setelah kateter masuk, isi balon dengan cairan aquades atau
sejenisnya untuk kateter menetap, dan bila intermiten tarik kembali ambil
pasien diminta menarik napas dalam.
m.
Sambung kateter dengan kantung penampung dan viksasi kearah atas
paha/abdomen.
n.
Rapikan alat.
o.
Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
p.
Catat prosedur dan respon pasien.
- Hari tanggal dan jam
pemasangan kateter
- Tipe dan ukuran
kateter yang digunakan
- Jumlah, warna, bau
urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
- Nama terang dan tanda
tangan pemasang





Tahun 2005 lalu saya menjalani untuk pemasangan kateter di perut saya karena saya tidak bisa kencing. Sampai saat ini saya masih menggunakan kateter. Saya sering mencari artikel tentang perawatan keteter seperti yang saya alami. Sayang tidak pernah menemukan.
BalasHapusKalau Mbak Acha punya artikel yang saya maksud, bila tidak keberatan tolong kirimkan ke email saya; mlyhadi@gmail.com atau 0851 007 89 139
Maaf, tadi kurang lengkap. Maksud saya, menjalani operasi pembedahan di perut saya.
BalasHapus