Jumat, 25 April 2014

pemasangan kateter



2.1 Konsep Kateterisasi
Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan yang terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silikon.Keteterisasi adalah tindakan memasukkan kateter yang steril ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk membantu memenuhi kebutuhan eliminasi, sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. Kateterisasi terbagi menjadi dua tipe:
1.      Kateter Sementara (Straight Kateter)
Dilakukan dengan cara kateter lurus yang sekali pakai dimasukkan sampai mencapai kandung kemih yang bertujuan untuk mengeluarkan urin yang dapat dilakukan selama 5 sampai 10 menit.Pada saat kandung kemih kosong maka kateter kemudian ditarik keluar, pemasangan kateter intermitten dapat dilakukan berulang jika tindakan ini diperlukan, tetapi penggunaan yang berulang meningkatkan resiko infeksi (Potter dan Perry, 2002 ).Pemasangan kateter sementara dilakukan jika tindakan untuk mengeluarkan urin dari kandung kemih pasien dibutuhkan. Efek samping dari penggunaan kateter ini berupa pembengkakan pada uretra, yang terjadi saat memasukkan kateter dan dapat menimbulkan infeksi (Thomas, 2007).
2.      Kateter Menetap (Foley Kateter)
Digunakan untuk waktu yang lebih lama dan ditempatkan dalam kandung kemih untuk beberapa minggu pemakaian sebelum dilakukan pergantian kateter. Pemasangan kateter ini dilakukan sampai klien mampu berkemih dengan tuntas dan spontan atau selama pengukuran urin akurat dibutuhkan (Potter dan Perry, 2005). Pemasangan kateter ini dilakukan dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping). Pemakaian kateter menetap ini banyak menimbulkan infeksi atau sepsis. Kateter menetap terdiri atas foley kateter (double lumen) dimana satu lumen berfungsi untuk mengalirkan urin dan lumen yang lain berfungsi untuk mengisi balon dari luar kandung kemih. Tipetriple lumen terdiri dari tiga lumen yang digunakan untuk mengalirkan urin dari kandung kemih, satu lumen untuk memasukkan cairan ke dalam balon dan lumen yang ketiga dipergunakan untuk melakukan irigasi pada kandung kemih dengan cairan atau pengobatan (Potter dan Perry, 2005).

2.1.1        Tujuan Kateterisasi
1.      Untuk mengeluarkan urine.
2.      Menghilangkan ketidaknyamanan karena distensi kandung kemih.
3.      Mendapatkan urine steril untuk specimen.
4.      Pengkajian residu urine.
5.      Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma medulla spinalis, gangguan neuromuskular, atau inkompeten kandung kemih. Serta pasca operasi besar.
6.      Mengatasi obstruksi aliran urine.
7.      Mengatasi retensi perkemihan.
8.      Melancarkan pengeluaran urin pada klien yang tidak dapat mengontrol miksi atau mengalami obstruksi pada saluran kemih.
9.      Memantau pengeluaran urine pada klien yang mengalami gangguan hemodinamik.

2.2      Indikasi Kateter
1.      Kateter sementara.
a. Mengurangi ketidaknyamanan pada distensi vesika urinaria.
b. Pengambilan urine residu setelah pengosongan urinaria.
2.      Kateter tetap jangka pendek.
a. Obstruksi saluran kemih (pembesaran kelenjar prostat)
b. Pembedahan untuk memperbaiki organ perkemihan, seperti vesika urinaria, urethra dan organ sekitarnya.
c. Preventif pada obstruksi urethra dari pendarahan.
d. Untuk memantau output urine.
e. Irigasi vesika urinaria.
3.      Kateter tetap jangka panjang.
a. Retensi urine pada penyembuhan penyakit ISK/UTI.
b. Skin rash, ulcer dan luka yang iritatif apabila kontak dengan urine.
c. Klien dengan penyakit terminal.

2.3  Proses Kateterisasi
1. Alat dan Bahan
Alat
Bahan
a.       Sarung tangan steril
b.      Kateter steril
c.       Duk steril
d.      Spuit
e.       Perlak dan alasnya
f.       Pinset anatomi steril
g.      Bengkok
h.      Urineal bag
i.        Perban
j.        Baskom
k.      Handuk kecil
l.        Sampiran
a.       Minya pelumas atau jelly
b.      Larutan pembersih antiseptik
c.       Kapas + cairan sublimate
d.      Plaster
e.       Aqua steril
f.       Air hangat
g.      Sabun
h.      Alkohol


2.    Prosedur
-          Pada perempuan
a.       Cuci tangan.
b.      Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
c.       Atur ruangan
d.      Pasang perlak atau alas.
e.       Gunakan sarung tangan steril.
f.       Pasang duk steril.
g.      Bersihkan vulva dengan kapas sublimat dari atas ke bawah (±3 kali hingga bersih).
h.       
http://www.healthline.com/images/staywell/7580.jpg
Kateter diberi minyak pelumas atau jelly pada ujungnya.
i.         
http://www.healthline.com/images/staywell/7581.jpg
Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam . Mengkaji kelancaran pemasukan kateter, jika ada hambatan kateterisasi dihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi kurang lebihcm.
j.        Setelah selesai, isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya dengan menggunakan spuit untuk yang dipasang tetap. Bila tidak dipasang tetap, tarik kembali sambil pasien disuruh napas dalam.
k.      Sambung kateter dengan urineal bag dan fiksasi kearah samping.
l.        Rapikan alat.
m.    Cuci tangan.
n.      Catat prosedur dan respon pasien meliputi :
-        Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
-        Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
-        Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
-        Nama terang dan tanda tangan pemasang

-          Pada Laki-laki
a.       Jelaskan prosedur
b.      Cuci tangan
c.       Pasang sampiran
d.      Pasang perlak
e.       Gunakan sarung tangan steril
f.       Pasang duk steril
g.      Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan uretra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan. Desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada saat pelaksanaan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan membersihkannya dengan kapas sublimat.









h.       
http://www.healthline.com/images/staywell/7577.jpg
Kateter diberi minyak pelumas atau jeli pada ujungnya (kurang lebih 12,5-17,5 cm)
i.         
http://www.healthline.com/images/staywell/7578.jpg
Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan(kurang lebih 17,5-20 cm)  dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas dalam.
j.         
http://www.healthline.com/images/staywell/7579.jpg
Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan. Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5 – 7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi kurang lebih 3 cm.
k.      Jika tertahan jangan dipaksa
l.        Setelah kateter masuk, isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya untuk kateter menetap, dan bila intermiten tarik kembali ambil pasien diminta menarik napas dalam.
m.    Sambung kateter dengan kantung penampung dan viksasi kearah atas paha/abdomen.
n.      Rapikan alat.
o.      Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
p.      Catat prosedur dan respon pasien.
-       Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
-       Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
-       Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
-       Nama terang dan tanda tangan pemasang


2.1 Konsep Kateterisasi
Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan yang terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silikon.Keteterisasi adalah tindakan memasukkan kateter yang steril ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk membantu memenuhi kebutuhan eliminasi, sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. Kateterisasi terbagi menjadi dua tipe:
1.      Kateter Sementara (Straight Kateter)
Dilakukan dengan cara kateter lurus yang sekali pakai dimasukkan sampai mencapai kandung kemih yang bertujuan untuk mengeluarkan urin yang dapat dilakukan selama 5 sampai 10 menit.Pada saat kandung kemih kosong maka kateter kemudian ditarik keluar, pemasangan kateter intermitten dapat dilakukan berulang jika tindakan ini diperlukan, tetapi penggunaan yang berulang meningkatkan resiko infeksi (Potter dan Perry, 2002 ).Pemasangan kateter sementara dilakukan jika tindakan untuk mengeluarkan urin dari kandung kemih pasien dibutuhkan. Efek samping dari penggunaan kateter ini berupa pembengkakan pada uretra, yang terjadi saat memasukkan kateter dan dapat menimbulkan infeksi (Thomas, 2007).
2.      Kateter Menetap (Foley Kateter)
Digunakan untuk waktu yang lebih lama dan ditempatkan dalam kandung kemih untuk beberapa minggu pemakaian sebelum dilakukan pergantian kateter. Pemasangan kateter ini dilakukan sampai klien mampu berkemih dengan tuntas dan spontan atau selama pengukuran urin akurat dibutuhkan (Potter dan Perry, 2005). Pemasangan kateter ini dilakukan dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping). Pemakaian kateter menetap ini banyak menimbulkan infeksi atau sepsis. Kateter menetap terdiri atas foley kateter (double lumen) dimana satu lumen berfungsi untuk mengalirkan urin dan lumen yang lain berfungsi untuk mengisi balon dari luar kandung kemih. Tipetriple lumen terdiri dari tiga lumen yang digunakan untuk mengalirkan urin dari kandung kemih, satu lumen untuk memasukkan cairan ke dalam balon dan lumen yang ketiga dipergunakan untuk melakukan irigasi pada kandung kemih dengan cairan atau pengobatan (Potter dan Perry, 2005).

2.1.1        Tujuan Kateterisasi
1.      Untuk mengeluarkan urine.
2.      Menghilangkan ketidaknyamanan karena distensi kandung kemih.
3.      Mendapatkan urine steril untuk specimen.
4.      Pengkajian residu urine.
5.      Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma medulla spinalis, gangguan neuromuskular, atau inkompeten kandung kemih. Serta pasca operasi besar.
6.      Mengatasi obstruksi aliran urine.
7.      Mengatasi retensi perkemihan.
8.      Melancarkan pengeluaran urin pada klien yang tidak dapat mengontrol miksi atau mengalami obstruksi pada saluran kemih.
9.      Memantau pengeluaran urine pada klien yang mengalami gangguan hemodinamik.

2.2      Indikasi Kateter
1.      Kateter sementara.
a. Mengurangi ketidaknyamanan pada distensi vesika urinaria.
b. Pengambilan urine residu setelah pengosongan urinaria.
2.      Kateter tetap jangka pendek.
a. Obstruksi saluran kemih (pembesaran kelenjar prostat)
b. Pembedahan untuk memperbaiki organ perkemihan, seperti vesika urinaria, urethra dan organ sekitarnya.
c. Preventif pada obstruksi urethra dari pendarahan.
d. Untuk memantau output urine.
e. Irigasi vesika urinaria.
3.      Kateter tetap jangka panjang.
a. Retensi urine pada penyembuhan penyakit ISK/UTI.
b. Skin rash, ulcer dan luka yang iritatif apabila kontak dengan urine.
c. Klien dengan penyakit terminal.

2.3  Proses Kateterisasi
1. Alat dan Bahan
Alat
Bahan
a.       Sarung tangan steril
b.      Kateter steril
c.       Duk steril
d.      Spuit
e.       Perlak dan alasnya
f.       Pinset anatomi steril
g.      Bengkok
h.      Urineal bag
i.        Perban
j.        Baskom
k.      Handuk kecil
l.        Sampiran
a.       Minya pelumas atau jelly
b.      Larutan pembersih antiseptik
c.       Kapas + cairan sublimate
d.      Plaster
e.       Aqua steril
f.       Air hangat
g.      Sabun
h.      Alkohol


2.    Prosedur
-          Pada perempuan
a.       Cuci tangan.
b.      Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
c.       Atur ruangan
d.      Pasang perlak atau alas.
e.       Gunakan sarung tangan steril.
f.       Pasang duk steril.
g.      Bersihkan vulva dengan kapas sublimat dari atas ke bawah (±3 kali hingga bersih).
h.       
http://www.healthline.com/images/staywell/7580.jpg
Kateter diberi minyak pelumas atau jelly pada ujungnya.
i.         
http://www.healthline.com/images/staywell/7581.jpg
Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam . Mengkaji kelancaran pemasukan kateter, jika ada hambatan kateterisasi dihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi kurang lebihcm.
j.        Setelah selesai, isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya dengan menggunakan spuit untuk yang dipasang tetap. Bila tidak dipasang tetap, tarik kembali sambil pasien disuruh napas dalam.
k.      Sambung kateter dengan urineal bag dan fiksasi kearah samping.
l.        Rapikan alat.
m.    Cuci tangan.
n.      Catat prosedur dan respon pasien meliputi :
-        Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
-        Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
-        Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
-        Nama terang dan tanda tangan pemasang

-          Pada Laki-laki
a.       Jelaskan prosedur
b.      Cuci tangan
c.       Pasang sampiran
d.      Pasang perlak
e.       Gunakan sarung tangan steril
f.       Pasang duk steril
g.      Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan uretra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan. Desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada saat pelaksanaan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan membersihkannya dengan kapas sublimat.









h.       
http://www.healthline.com/images/staywell/7577.jpg
Kateter diberi minyak pelumas atau jeli pada ujungnya (kurang lebih 12,5-17,5 cm)
i.         
http://www.healthline.com/images/staywell/7578.jpg
Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan(kurang lebih 17,5-20 cm)  dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas dalam.
j.         
http://www.healthline.com/images/staywell/7579.jpg
Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan. Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5 – 7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi kurang lebih 3 cm.
k.      Jika tertahan jangan dipaksa
l.        Setelah kateter masuk, isi balon dengan cairan aquades atau sejenisnya untuk kateter menetap, dan bila intermiten tarik kembali ambil pasien diminta menarik napas dalam.
m.    Sambung kateter dengan kantung penampung dan viksasi kearah atas paha/abdomen.
n.      Rapikan alat.
o.      Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
p.      Catat prosedur dan respon pasien.
-       Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
-       Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
-       Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
-       Nama terang dan tanda tangan pemasang

2 komentar:

  1. Tahun 2005 lalu saya menjalani untuk pemasangan kateter di perut saya karena saya tidak bisa kencing. Sampai saat ini saya masih menggunakan kateter. Saya sering mencari artikel tentang perawatan keteter seperti yang saya alami. Sayang tidak pernah menemukan.
    Kalau Mbak Acha punya artikel yang saya maksud, bila tidak keberatan tolong kirimkan ke email saya; mlyhadi@gmail.com atau 0851 007 89 139

    BalasHapus
  2. Maaf, tadi kurang lengkap. Maksud saya, menjalani operasi pembedahan di perut saya.

    BalasHapus